Jumat, 16 Mei 2014

Sekelumit Masalah Transportasi Umum Di Kota Kupang

Di perkotaan, sistem transportasi merupakan salah satu komponen penting yang berfungsi menunjang mobilitas kehidupan penduduk perkotaan. Salah satu yang penting dalam sistem transportasi masyarakat perkotaan adalah angkutan umum. Karena itu, sarana transportasi umum perlu dikelola dengan baik agar mendukung fungsi tersebut.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengertian kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk digunakan oleh umum dengan dipungut bayaran. Angkutan umum terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu Angkutan Jalan Raya, Angkutan Rel, Angkutan Laut, dan Angkutan Udara. Keberadaan angkutan umum sangat penting sebagi sarana pendukung dalam aktivitas perekonomian suatu daerah.
Angkutan umum yang melayani masyarakat Kota Kupang adalah angkutan kota (angkot), ojek, bus, dan taksi. Di Kota Kupang, angkot dan ojek adalah yang paling diminati dan jumlahnya jauh lebih banyak daripada angkutan umum yang lain. Tapi angkot adalah yang paling diminati karena pertimbangan jalur perjalanan yang sesuai dengan asal dan tujuan, serta biaya transposrtasinya yang lebih murah.
Angkutan kota (angkot) merupakan angkutan umum yang termasuk dalam jenis angkutan jalan raya. Angkot memiliki asal dan tujuan yang berbeda–beda dengan jalur yang berbeda pula yang disebut dengan trayek angkot. Setiap trayek angkot dibedakan dengan warna angkot atau angka yang tertera pada angkot tersebut. Angkot dikendarai oleh seorang sopir dan dibantu oleh seorang kenek.
Angkot yang ada di Kota Kupang dilengkapi dengan seperangkat sound system dan didandani dengan berbagai aksesoris. Tujuannya untuk hiburan dan untuk menarik penumpang. Hal ini menciptakan ciri khas tersendiri dan memberikan kesan unik untuk dikenang para pendatang (para wisatawan atau orang yang hanya berkunjung sebentar untuk tujuan tertentu). Namun di sisi lain, keunikan ini menciptakan persaingan tidak sehat antar pengusaha angkot. Mereka menganggap perangkat sound system dan aksesoris di angkot sebagai daya tarik efektif untuk menarik penumpang. Persepsi penumpang pun tergiring  untuk menciptakan semacam pengkelasan terhadap angkot. Maka ada istilah angkot gaul dan angkot puruk, yang ditinjau berdasarkan dua daya tarik tadi. Angkot gaul adalah yang dilengkapi sound system yang baik dan didandani dengan berbagai aksesoris (stiker–stiker, pewangi ruangan, dan lain sebagainya). Persaingan tidak sehat tercipta ketika sound system dan aksesoris mendorong persentase minat yang berbeda terhadap bemo. Maka terbangun persepsi, angkot yang paling efektif mengupayakan daya tarik penumpang, adalah yang paling efektif mendapatkan pemasukkan.
Sound system dan aksesoris juga membuat angkot–angkot di Kota Kupang dijuluki diskotik berjalan. Pengeras–pengeras suara besar ditempatkan di bawah bangku penumpang, musik–musik menggelegar dan memekakkan telinga disalurkan dari sana. Para sopir serta penumpang–penumpang tertentu menyukai dentum–dentum yang membuat jantung melonjak–lonjak. Kadang dentum jauh lebih dominan dibandingkan elemen musik yang lain, dentum kerap diutamakan hingga mengaburkan lirik lagu atau suara penyanyi.
Angkot di Kupang yang menjelma diskotik berjalan merupakan sumber kebisingan pada sarana transportasi dan jalan raya di Kota Kupang. Ini berdampak pada lingkungan pemukiman, perkantoran, atau sekolah–sekolah yang berada di sekitar jalan raya yang menjadi jalur bemo.
Dampak kebisingan suara musik pada angkot bisa menyebabkan gangguan pada manusia, seperti gangguan fisiologi (berupa peningkatan tekanan darah, denyut jantung bertambah, dan lelah), gangguan psikologis (berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, stres, dan cepat marah), gangguan komunikasi (berupa gangguan kejelasan suara), dan ketulian. 
Kebisingan adalah bunyi yang tidak nyaman atau tidak dikehendaki. Bunyi sendiri adalah gejala yang umum dalam kehidupan sehari–hari sehingga jarang dihargai kegunaannya. Besar kecilnya kebisingan tergantung pada kualitas bising serta bagaimana sikap terhadap kebisingan tersebut. Biasanya sikap tersebut bersifat subjektif, tergantung pada si pendengar.
Sopir dan kenek angkot umumnya tidak merasa terganggu karena sudah terbiasa mendengar suara musik yang keras dan berdentum–dentum. Mereka telah melakukan adaptasi terhadap gangguan kebisingan yang dirasakan. Namun tanpa disadari mereka bisa mengalami hilangnya kepekaan terhadap bunyi karena mengalami kenaikan ambang pendengaran.
Para penumpang mempunyai persepsi yang berbeda terhadap kebisingan yang ditimbulkan musik di dalam angkot. Ada yang tidak memedulikannya karena dianggap sebagai hiburan. Tapi mereka yang tidak mampu melakukan adaptasi terhadap sumber kebisingan itu akan memberikan respon, seperti meminta sopir mengecilkan sound system-nya. Namun adakalanya sopir tak memedulikan respon dan permintaan penumpang. Mereka malah memaksa penumpang untuk beradaptasi padahal penerimaan orang terhadap dampak bising itu berbeda. Bagi mereka, musik adalah daya tarik. Tanpa musik, bemo sepi peminat. Musik adalah salah satu pendukung pemasukan mereka.
Dalam sistem transportasi umum, trayek yang satu mempunyai jumlah setoran yang berbeda dengan trayek yang lain. Setoran ini harus dipenuhi oleh para sopir angkot setiap hari. Untuk memenuhi setoran yang ditentukan, para sopir angkot harus mengejar target setoran, atau ‘kejar setoran’.
Adanya kejar setoran itu berpengaruh pada perilaku para sopir saat mengemudi. Perilaku mereka cenderung negatif dan sering membuat para penumpang merasa tidak nyaman.  Pada banyak sopir terdapat pola pikir bahwa kenyamanan dan keselamatan penumpang serta pengguna jalan lainnya bukan sesuatu yang paling penting dan harus dipertimbangkan ketika berkendaraan karena mereka selalu terdesak untuk mengejar setoran. Pola pikir ini menimbulkan perilaku berkendaraan yang tidak bertanggung jawab. Banyak sopir angkot sering ugal–ugalan sehingga membahayakan penumpang bemo itu sendiri, dan penggguna jalan lainnya. Seringkali teguran penumpang tidak dihiraukan. Pengendara kendaraan seharusnya sadar, secara tidak langsung mereka menerima tanggung jawab atas keselamatan penumpangnya. Perilaku seperti ini dapat ditimbulkan oleh para sopir tembak atau pengendara yang tidak mempunyai Surat Ijin Mengemudi (SIM).
Hal yang sama juga terjadi pada angkutan umum lainnya seperti ojek. Populasi ojek semakin bertambah setiap harinya. Mudahnya memperoleh kredit sepeda motor menjadi salah alasan yang menyebabkannya. Ini juga menyumbang dampak pada tingginya tingkat kemacetan di jalan raya. Ojek diminati sebagai sarana transportasi yang mampu menjangkau tempat–tempat yang tidak bisa dijangkau angkot. Tarif ojek relatif sedikit lebih mahal dibandingkan angkot.
Ojek adalah usaha individual yang tidak memiliki trayek tertentu. Umumnya para pengojek berasal dari wilayah di sekitar pangkalannya. Tapi terbatasnya jumlah penumpang yang dilayani mereka, memungkinkan mereka melakukan mobilitas yang tinggi. Mereka bisa mengantar penumpang kemanapun. Asal dan tujuan ojek tidak terbatas seperti pada angkot yang terbatas pada trayek tertentu. Ini memberi keuntungan bagi para penumpang. Tapi ada dampak negatif pada angkutan umum yang sedikit ekslusif ini, seperti bahaya tindak kriminal. 
Populasi ojek yang meningkat juga menyebabkan adanya kejar setoran seperti pada bemo karena para pengojek harus memenuhi kebutuhan hidupnya dan memiliki beban untuk membayar kredit sepeda motor setiap bulannya. Ini juga memacu perilaku berkendaraan yang tidak bertanggung jawab. Tukang ojek sering ugal–ugalan, tidak memiliki SIM, dan tidak menganggap penting penggunaan helm sebagai alat pengaman diri.
Sistem transportasi umum di Indonesia memang agak tidak tertata dengan baik. Halte tidak dimanfaatkan sebagaimana fungsinya sebagai tempat perhentian kendaraan. Di Indonesia, angkutan umum bisa berhenti dimana saja, berbeda dengan di negara lain dimana angkutan umum hanya menurunkan penumpangnya di halte. Ini menyebabkan masalah dalam lalu lintas kendaraan di jalan raya.
Banyak pelanggaran lalu lintas sering terjadi. Banyak pengendara angkutan umum tidak mematuhi rambu lalu lintas. Banyak angkutan umum suka berhenti sembarangan untuk mengangkut atau menurunkan penumpang. Demi cepatnya memperoleh penumpang, banyak angkot sering berhenti di tempat–tempat yang tidak seharusnya, seperti perempatan, pertigaan, atau tikungan jalan. Kebiasaan buruk ini juga disumbangkan para penumpang yang tidak memperhatikan juga keselamatan di jalan raya. Asalkan cepat menumpang angkutan umum dan cepat sampai tujuan tanpa memedulikan aturan lalu lintas.
Ada pula perilaku tidak bertanggung jawab lainnya seperti pengendara kendaraan yang suka merokok dan menerima panggilan telepon seluler saat berkendaraan. Asap rokok dapat mengganggu kenyamanan penumpang, sementara menerima panggilan telepon seluler saat berkendaraan berpotensi menimbulkan kecelakaan karena konsentrasi pengendara terpecah dalam dua aktivitas sekaligus.
Kenyamanan dan keselamatan dalam sistem transportasi umum di perkotaan menjadi tanggung jawab semua pihak karena mendukung mobilitas penduduk perkotaan. Dari beberapa permasalahan yang ada, maka perlu adanya perubahan paradigma dari “kendaraan angkutan umum yang memerlukan penumpang” menjadi “penumpang yang membutuhkan angkutan umum”. Hal tersebut dapat ditempuh dengan beberapa cara, antara lain;
1.      Dilakukan pembinaan terhadap pengendara angkutan umum. Ini bertujuan untuk memberikan pendidikan agar mereka lebih bertanggung jawab dalam berkendaraan.
2.      Pemberlakuan sertifikasi untuk pengendaraan kendaraan setelah dilakukan pembinaan.
3.      Pengusaha angkot harus selektif dalam memilih sopirnya. Carilah yang memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM). Selain pembinaan dari pihak terkait, para pengusaha angkot perlu melakukan pembinaan kepada para sopirnya tentang perilaku berkendaraan yang bertanggung jawab. Dan bila perlu dibuat sebuah kontrak kerja antara kedua belah pihak.
4.      Perlu adanya manajemen bagi ojek.
5.      DLLAJR perlu mengkaji kembali manajemen transportasi seperti mengaktifkan kembali sistem terminal dan karcis angkot bagi masing–masing trayek angkot. Juga mengkaji kebutuhan angkot pada setiap trayek angkot sehingga jumlah angkot dalam suatu trayek angkot memenuhi kuota penumpang pada wilayah trayek tersebut.
6.      Dibuat sistem penomoran, penamaan, atau pewarnaan angkot yang sesuai trayeknya.
7.      Meniadakan atau membatasi penggunaan aksesoris dan sound system pada angkot.

Dengan adanya perubahan paradigma dari “kendaraan angkutan umum yang memerlukan penumpang” menjadi “penumpang yang membutuhkan angkutan umum”, maka;
1.      Para pengendara angkutan umum mempunyai kesadaran berkendaraan yang bertanggung jawab dan tertib lalu lintas. Dengan sendirinya penumpang sebagai pengguna jasa angkutan umum dan pengguna jalan pun digiring untuk memiliki tanggung jawab dan ketertiban yang sama.
2.      Tercipta persaingan usaha yang sehat dalam usaha jasa angkutan umum.
3.      Manajemen kendaraan menjadi lebih baik, tidak ada lagi perebutan penumpang.
4.      Para penumpang tidak mempunyai pilihan dalam menumpang angkot dan tercipta kesadaran menghargai waktu.

5.      Dampak kebisingan lalu lintas dapat ditekan sehingga tercipta lingkungan pemukiman yang nyaman dan orang–orang dapat bekerja dengan baik, serta penumpang angkot dapat menikmati perjalanan yang nyaman dan terhindar dari gangguan kesehatan akibat dampak tersebut.

Minggu, 23 Maret 2014

Puisi

Kesadaran Pertama

pada titik ini aku buntu
sesuatu dalam benakku menjadi lebih pekat dari malam
tak bisa kutelusuri untuk sungguh mendamaikan dahaga ingin tahu
hanya bisa kujejak gelap, kuterka jalan, dan merasa takut

aku manusia
dan ada yang berbicara dalam tubuh ini
bagai dua karib
apakah mereka sungguh dua?
darimanakah ia atau saya berasal?
mengapa kami mesti hadir pada raga ini?
mengapa kami mesti manusia?

betapa terkutuk makhluk ini
dosa adam hawa menjadi warisan
bagai cincin sauron yang jatuh pada Bilbo Bagins
lalu terwaris pada Frodo Bagins
ada tanggung jawab terpikul
tak terelak
harus diterima sebagai tanggung jawab

bisakah aku tak ada?
tapi aku telah ada untuk menyadari semua ini
dan aku takut
karena aku pasti lemah untuk selalu mengelak dosa
buah pengetahuan terlanjur dikecap nenek moyang
batu filosofi hanya dongeng penghiburan
ramuan hidup abadi hanya usaha yang membuka pengetahuan baru
pohon keabadian telah dijaga ketat dari sang pelanggar
kematian menjadi harga mutlak menuju jawaban

dan misteri itu, siapa mampu menelusur?

Music

Music is the most important entertainment in the world. Music likes a salt that brings resolutely taste for our food. Music needs together with the other entertainment. For example, a film needs music as a back sound of a scene. The dancers need music for dancing. Most people need music for refreshing their brain when stress. The number of people uses music as media to communicate something for other people. Music has cadence, intonation, and lyric that stimulates people to feel something. Music is one way to tell something that you feel.

There are many types of music, such traditional music and international music. The traditional music is the music from an ethic or a community in a country. It is commonly created from traditional instruments that is quite special in an ethic. For example tifa is one of Indonesian traditional instrument. It is from the Maluku. The other hand, international music is the music born from a community, then it developed and was accepted in global community. It is created from the instrument that popular in global are, such piano or guitar. Everybody in the world knows piano or guitar but just a few people in the world or in Indonesian know tifa.


The traditional music of a country as important as the international music that is heard everywhere nowadays. But, the popularity of international music threatens the existence of traditional music. Most people think the international music is cooler than the traditional music. Whereas, although old fashioned, the traditional music was created by traditional instruments of a country. It shows the identity of the country. If we ignore it, we will lose knowledge about our cultural riches. International music can exist for long time because it is kept by global community that fond it. But the existence of traditional music depends on how we keep it. If we don’t care, next generation in our country will forget our cultural riches.  

Menyikapi Sosial Media

Seiring pesatnya perkembangan teknologi nirkabel, sosial media pun hadir, menawar sebuah lingkungan maya dimana orang–orang dapat bergaul dari segala belahan bumi tanpa perlu bertemu langsung. Kehadiran social media memungkinkan orang–orang dapat berkomunikasi dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Pergaulan seperti ini, irit biaya dan irit waktu. Hal ini sungguh bermanfaat karena dewasa ini, tuntutan hidup yang semakin keras membuat orang semakin sibuk. Banyak orang mulai mengeluh kewalahan mengatur waktu. Dan banyak hal semakin mahal. Sosial media membantu kita tetap terhubung dengan orang di kejauhan secara praktis tanpa perlu menghabiskan biaya sebesar jika kita pergi menemui orang itu. Ongkos transportasi nirkabel selalu berkali lipat lebih murah dibandingkan ongkos transportasi umum, semisal bis atau pesawat menuju suatu tempat.

Sosial media memungkinkan terbentuknya jaringan pergaulan yang lebih luas. Kelebihannya, informasi dapat dibagi dan diketahui. Adanya jaringan pertemanan memungkinkan kesalahan informasi bisa segera dikoreksi. Orang–orang juga bisa bertukar pikiran tentang sebuah topik yang disampaikan atau bisa saling membantu untuk mengatasi sebuah persoalan.
Saya termasuk pengguna social media yang aktif. Saya memakai facebook, tweeter dan BBM (Blackberry Messenger). Saya menyukai moto yang diusung facebook; ‘facebook helps you to connect with people in your life’. Sejauh ini, facebook memang membantu saya untuk terhubung dengan orang–orang dalam kehidupan saya. Saya bisa berjumpa dengan banyak kawan lama saya lewat media ini. Karena itu, saya tak sembarang mengkonfirmasi undangan berteman, kecuali seseorang itu saya kenal, atau terkait dengan orang yang saya kenal benar (demi membuka jaringan pertemanan yang lebih luas). Saya juga menemukan ruang lain untuk menulis setelah saya mulai berjauhan dengan majalah dinding atau ketika saya malas dengan publikasi di Koran lokal. Facebook memungkinkan saya berekspresi sebebas–bebasnya, memungkinkan orang menyantap buah pikir saya dan memberi respon terhadap buah pikir itu. Semua dimungkinkan dalam hitungan waktu yang segera, nyaris sekejab.
Saya juga menggunakan tweeter demi informasi dari akun beberapa Koran nasional, penerbit buku tertentu, penulis–penulis favorit saya atau beberapa tokoh ternama, akun – akun yang menawar informasi yang berkolerasi dengan hal – hal yang saya minati atau yang mendukung pekerjaan saya dan tentu saja berhubungan dengan beberapa teman dekat yang menggunakan tweeter.
Bagi saya, sosial media disamping memberikan kita informasi, juga membuka kesempatan bagi kita untuk berlatih menyampaikan pikiran kita dari bahasa lisan ke bahasa tulis. Sosial media bisa menjadi sarana bagi mereka yang introvent untuk membuka diri. Karena melepaskan yang hanya tersembunyi dalam benak merupakan salah satu langkah membebaskan diri dari ketertekanan.
Tanpa disadari, bagi banyak orang, wall facebook atau tweeter, atau BBM kemudian menjadi tempat curhat. Saya melihat, kebanyakan tulisan mempublikasikan reaksi–reaksi impulsive seseorang. Sekejab seseorang marah, sekejab menjadi status. Sekejab seseorang gembira, sekejab menjadi status. Maka kita pun karib dengan status–status sepele seperti seseorang sakit perut atau seseorang baru keluar dari kamar mandi. Bahkan kita bisa karib dengan the ordinary day of somebody. Ada keterbukaan yang memindahkan komunikasi dengan diri sendiri (membatin atau bicara dalam hati) ke sosial media. Misalnya, tanpa sosial media, kau akan bekeluh sendiri saat kau sakit perut. Di sosial media keluhan itu dibatinkan sekaligus ditulis dan terpublikasi.
Hal itu bagi saya tidak bisa secara praktis ditanggapi sebagai memamerkan eksistensi atau menelanjangkan diri secara sengaja ke orang lain. Tapi adakalanya karena seseorang begitu terlanjur biasa atau (lebih berbahaya lagi) telah berjiwa dengan sosial media hingga membatin diserentakkan dengan mengetik sesuatu untuk dipublikasikan. Ini bisa terjadi ketika ponsel menjadi begitu karib hingga menjelma nadi bagi seseorang. Akhirnya, sosial media membawa bahaya dimana seseorang menjadi begitu telanjang untuk dikenali.
Apakah hal itu tidak benar? Bagi saya itu relatif. Biar bagaimana pun manusia adalah makhluk yang unik, manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Eksistensi manusia dimungkinkan dengan relasinya dengan sesama. Keterlibatan di sosial media adalah salah satu bentuk keterlibatan seseorang dengan orang lain. Saya sendiri lebih menanggapinya dengan memaklumi status – status tersebut dengan alasan yang sudah saya jabarkan sebelumnya. Meski begitu, perlu ada kebebasan bertutur yang bertanggung jawab di sosial media. Keterbukaan yang tak terkontrol bisa berpotensi menimbulkan konflik.
Sosial media menyediakan lingkungan maya untuk bergaul. Sama seperti di lingkungan nyata, interaksi manusia memungkinkan benturan–benturan tertentu. Salah tulis, keceplosan menulis, penggunaan bahasa yang kasar, dan kekilafan–kekilafan lainnya menjadi sama dengan salah ucap, keceplosan ucap, atau kekilafan–kekilafan dan ketidakbertanggungjawaban bertutur lainnya. Maka kita bisa menemukan pertengkaran di sosial media atau konflik dalam kehidupan nyata yang tergagas dari sosial media atau dibawa ke sosial media.
Maka bersosial media seyogyanya memiliki keanggunan sebagaimana kita bergaul dalam kehidupan nyata. Tidak ada kebebasan yang sungguh penuh. Ketika terlalu penuh, kita melesatkan diri dalam situasi tak terkontrol. Dalam ruang menulis di sosial media yang begitu terbatas karakter, intensitas publikasi memungkinkan kita menjejak aktivitas seseorang bahkan membaca karakternya. Sehingga kita perlu cerdas dalam bergaul di lingkungan maya itu. Setiap orang punya penerimaan yang berbeda terhadap sesuatu, sehingga kita perlu berhati–hati dalam menuliskan sesuatu sebagaimana kita perlu berhati–hati dalam relasi di kehidupan nyata. Kenyamanan kita dalam bersosial media juga tergantung dari bagaimana kita menyikapi publikasi – publikasi orang.
Sosial media adalah lingkungan maya yang memungkinkan kita bergaul dan memperoleh informasi lewat sebuah jaringan yang lebih luas. Lingkungan ini tidak bisa kita pakai untuk sungguh menilai seseorang. Keterlibatan kita dengan seseorang dalam kehidupan real-lah yang bisa membuat kita sungguh menilai seseorang. Tidak sedikit orang salah menggunakan sosial media untuk penipuan. Interaksi di dunia nyata memungkinkan kita melihat gesture seseorang untuk menilai kejujurannya. Banyak hal palsu ditampilkan di sosial media sehingga kita perlu cerdas menanggapi segala yang tampil di sosial media.
Saya pribadi melihat sosial media sebagaimana sebuah tempat hiburan, katakanlah diskotek. Tempat itu riuh dan penuh dengan orang – orang yang ingin rehat sejenak dari kesibukannya. Disana banyak orang berkumpul untuk bergembira. Terkadang kami minum – minum lalu melepas yang kami batini. Saya memilih tak percaya penuh pada seorang pun, kecuali yang telah saya kenal benar di luar tempat itu. Jika ada yang saya kenali lalu berceloteh hal yang menyakitkan, saya anggap orang itu sedang mabuk. Saya memilih tidak menanggapi selama ia tidak mengangkat kepalnya dan meninju hidung saya sampai berdarah. Saya memaklumi ada kebiasaan yang mendorong membatin serentak terjadi bersama menulis. Tapi pemakluman itu tak lantas membuat saya membenarkan ketidakbertanggungjawaban/ketidakcerdasan seseorang dalam menuliskan sesuatu. Sebagaimana, ketika dua orang mabuk berkelahi di diskotik urusan bisa berlanjut di luar tempat itu. Sehingga tidakkah pengendalian diri perlu? Atau tidakkah seseorang perlu menjaga diri?
Manfaatkanlah sosial media dengan lebih bertanggung jawab. Sekalipun impulsif mengetik yang terbatin di diri sendiri, bacalah kembali sebelum mem-posting-nya. Pikirkan penerimaan orang lain. Hati – hati dengan penelanjangan yang kemudian jadi bumerang bagi diri sendiri.

Akhirnya, selamat menikmati pergaulan di sosial media dan terima kasih sudah mau membaca tulisan ini.

Selasa, 17 Desember 2013

Skipping Christmas: Rencana Absen Natal


Natal segera tiba.

Sejak bekerja, Desember selalu menjadi bulan tersibuk. Banyak pekerjaan dikejar untuk diselesaikan. Saya mulai merasa ada gairah natal yang berbeda dari yang selalu saya rasakan ketika masih kanak–kanak. Kadang saya rindu kembali ke usia itu. Pada masa itu, kita sungguh penikmat bagi berbagai hal.

Dalam situasi seperti ini, saya selalu teringat novel John Grisham, Skipping Christmas.

Itu novel natal pertama yang saya baca. Saya tak sengaja membeli novel itu saat saya mencari buku Kimia Fisik di Toko Buku Suci. Yang menarik minat saya membelinya, bukan karena judul atau sinopsis ceritanya, melainkan karena nama John Grisham.

Belum lama sebelumnya, saya baru berkenalan dengan John Grisham. Saya membaca The Partner dan masih terpukau dengan ceritanya. The Partner adalah sebuah novel yang luar biasa. Ia sesempurna rencana sempurna dalam novel itu untuk membuat saya cukup lama terpukau. Karena keterpukauan yang masih menadi itu, saya membeli Skipping Christmas. 

Skipping Christmas menawar cerita yang lebih sederhana daripada The Partner. Ini menyentakkan saya. Membaca The Partner lalu membaca Skipping Christmas itu seperti merendam saya dalam air es begitu mengeluarkan saya dari air mendidih. Tapi tentang perbandingan ini, akan saya jabarkan lain waktu. Mari kita fokus pada Skipping Christmas dulu.

Skipping Christmas bercerita tentang pasangan suami istri paruh baya; Luther dan Nora Krank yang ingin absen merayakan natal. Cerita dimuka dengan kemuraman mereka pada hari Thanks Giving. Putri mereka yang bekerja di Peru, mengatakan ia tak bisa pulang ke rumah pada natal tahun tersebut. Luther dan Nora pun membayangkan natal akan sangat berbeda tanpa kehadiran anaknya. Itu adalah natal pertama tanpa sang anak.

Namun, Luther melihat sebuah berkah. Ia meninjau natal tahun sebelumnya dan berpikir, betapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk merayakan natal. Ada beberapa tradisi yang dianggapnya berlebihan. Ia merinci segala bentuk pengeluaran, mulai dari persiapan pohon natal dan dekorasi rumah, biaya makan minum tamu dan sebagainya. Ia merasa natal penuh dengan pemborosan. Setahun lebih ia bekerja membanting tulang demi pemborosan di akhir tahun. Kadang untuk anggaran natal, bonus hari raya atau akhir tahun pun tak menutupi. Malah terkadang orang harus berhutang untuk hal–hal demi kesenangan natal. Mereka bahkan harus pusing bagaimana membayar tagihan–tagihan di tahun yang baru. Bulan–bulan pertama dalam tahun yang baru selalu bulan - bulan susah. Keuangan serasa ada di titik dasar untuk membuat orang bersusah hati daripada bersemangat menyambut tahun yang baru, memaksa mereka bekerja keras setelah bersenang–senang, bahkan kerja keras itu harus dilakukan demi kesenangan natal berikutnya.

Serentetan perhitungan finansial membuat Luther sungguh pasti tak mau merayakan natal. Ia bakal absen. Keputusan ini dirasa aneh oleh para tetangga dan orang–orang sekitarnya. Kedua pasangan ini tinggal di kota kecil dimana kehidupan sosial menjadi penting. Berita tentang absen natal itu tersebar luas dengan cepat.

Sebagai ganti merayakan natal sebagaimana lazimnya, Luther telah menemukan kegiatan lain yang jauh lebih murah untuk merayakan natal, yaitu berlibur ke Pulau Karibia selama natal. Ia telah cermat menghitung dan hasilnya, mereka akan hemat dan tak bakal susah di tahun berikutnya.
Ia menertawakan para tetangganya yang melakukan persiapan menjelang natal. Ia mengejek kesusahan yang bakal mereka alami setelah kesenangan. Ia berpikir, saat mereka merayakan natal di Amerika dalam cuaca dingin dan penuh pemborosan, ia telah di Karibia, menikmati laut dan sinar matahari. Ia dan istrinya bahkan telah melakukan penghitaman kulit. Biaya untuk itu masih wajar dan tak berpotensi menumpuk utang untuk kesenangan.

Alhasil, ketiadaan persiapan membuat rumah Luther dan Nora menjadi satu–satunya yang berbeda diantara rumah–rumah di kompleks itu. Rumah itu nihil ornamen natal sebagaimana rumah yang lain. Tak ada pohon natal, hiasan kerlap – kerlip, boneka frosty di dekat cerobong asap, kue jahe, maupun kalkun. Saat semua orang membicarakan perbedaan itu, Luther tetap bersikukuh dengan rincian rencana natalnya yang serba hemat.

Tapi di sedetik ke depan siapa mampu meraba? Ketika rencana natal hemat Luther telah demikian matang, bencana mendadak datang. Sang anak menelepon tak berapa lama sebelum mereka ke Karibia. Si anak akan datang berlibur ke rumah. Ia mau membawa kekasih yang dijumpainya di Peru untuk merasakan natal ala Amerika di rumah orang tuanya. Yang mendebarkan, si anak menelepon ketika ia telah di bandara.

Luther dan Nora terhenyak. Rencana natal hemat tamat. Mereka terpaksa harus pontang–panting mempersiapkan natal demi anaknya. Buruknya, berbagai perlengkapan natal mulai habis stok di toko–toko. Kalau pun ada, kualitasnya tak memuaskan dan harganya melambung. Luther bahkan tak mendapatkan pohon natal sehingga nekat mencuri pohon natal dari rumah tetangganya yang sementara pergi berlibur natal di tempat lain.

Putrinya membuat Luther dan istrinya menjilat ludah sendiri. Dengan sembunyi–sembunyi mereka mempersiapkan natal sebagaimana biasanya. Mereka tak mau tetangga tahu dan balik mengolok. Karena desakan persiapan natal mereka yang sudah sangat terlambat itu, Luther sampai jatuh dari atap saat memasang boneka frosty. Kakinya cedera dan rencana natal mereka yang batal terpergoki tetangga.

Untungnya, para tetangga menyayangi anak Luther dan Nora. Ia tumbuh bersama anak–anak yang lain di kompleks itu. Maka mereka membantu mempersiapkan natal sebagaimana tradisi Amerika demi anak Luther dan Nora. Mereka menyumbang segala hal terkait itu dari milik pribadi mereka. Mereka bahkan tak menceritakan hal itu pada anak Luther dan Nora.

Novel ini sederhana tapi amat menyentuh. Ada kritikan bagi natal khas Amerika yang meriah namun boros. Tapi biar bagaimana pun, merayakan natal sesungguhnya membagi sukacita. Ada tradisi–tradisi perayaan yang telah lazim ada dan menjadi ciri khas. Intinya mungkin bukan pada tidak merayakan natal demi menghemat. Tapi bagaimana kita mengatur agar perayaan itu tak berlebihan, tak boros, dan tak menyusahkan di tahun berikutnya.

Lantas, seperti ketika saya menutup halaman terakhir The Partner, pada Skipping Christmas pun saya berkata, tak ada rencana yang sungguh sempurna secermat apapun kau merencanakannya.

Selamat menyongsong natal.